Keren, Asyik, Moderen, Santun.
Para dukun Yaman meramalkan akan lahir seorang nabi suci pembawa kebenaran. Ramalan ini terjadi pada masa pra-Islam.
Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq yang disyarah dan tahqiq Ibnu Hisyam serta diterjemahkan Ali Nurdin, suatu ketika Raja Yaman yang bernama Rabi'ah bin Nashr bermimpi buruk. Mimpi itu membuatnya resah. Ia lantas mengumpulkan semua dukun, tukang sihir, peramal, dan ahli nujum di kerajaannya.
"Sungguh aku bermimpi menyeramkan dan hal itu membuatku cemas. Coba jelaskan kepadaku makna mimpi itu," kata Rabi'ah bin Nashr kepada mereka.
Para dukun, tukang sihir, peramal, dan ahli nujum kemudian mempersilakan raja untuk menceritakan mimpinya. Namun, sang raja menolak. Ia tidak yakin dengan kebenaran penafsiran mereka.
"Sesungguhnya, yang mengetahui tafsirnya adalah orang yang mengetahui mimpi itu sebelum aku menceritakannya," ujar raja.
Salah seorang dari mereka mengusulkan agar raja memanggil Sathih dan Syiqq, dua dukun yang keahliannya tak tertandingi. Nama asli Sathih adalah Rabi' bin Rabi'ah bin Mas'ud, sementara Syiqq adalah Ibnu Sha'ab bin Yasykur bin Ruhm. Nenek moyang mereka berasal dari kabilah Yaman.
Raja kemudian mengutus seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiqq. Sathih datang lebih dulu lalu raja berkata kepadanya, "Aku melihat di dalam mimpiku sesuatu yang membuatku takut dan khawatir. Ceritakanlah mimpiku itu. Kalau bisa menebak mimpi itu dengan benar, engkau pasti bisa menerangkan tafsirnya dengan benar pula."
Sathih berkata, "Aku akan coba. Paduka melihat nyala api muncul dari kegelapan lalu jatuh di lembah. Api itu membakar semua makhluk yang memiliki tengkorak."
Raja membenarkan apa yang dikatakan Sathih. Ia lantas meminta takwil mimpi itu.
Sathih menjawab, "Aku bersumpah demi ular di antara dua lubang, bangsa Habasyah akan menyerang kerajaan Paduka dan menguasai wilayah dari Abyan sampai Jurasy."
Raja berkata, "Ayahmu menjadi tebusannya, Sathih! Sungguh berita ini sangat pahit dan membuatku geram! Kapan hal itu terjadi? Apakah pada zamanku ini atau sesudahnya?"
Sathih lalu menjawab peristiwa tersebut akan terjadi lebih dari 60 atau 70 tahun sesudah ini dan akan berlangsung beberapa tahun. Saat ditanya apakah kerajaan mereka akan abadi atau sementara, Sathih menjawab kerajaan itu akan berakhir dalam 79 tahun setelah itu mereka diusir dari Yaman.
Orang yang membinasakan mereka, kata Sathih, adalah seorang lelaki bernama Iram bin Dzi Yazan. Dia menyerang dari Aden. Kekuasaannya akan berakhir sampai datang seorang nabi suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi.
Saat ditanya asal kelahiran nabi itu, Sathih menyebut dia keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik. "Kekuasaan akan berada dalam genggamannya hingga akhir zaman," kata Sathih.
Raja pun bertanya waktu berakhirnya akhir zaman itu. Sathih menjawab, "Ya, pada hari ketika manusia dari awal sampai akhir dihimpun. Orang yang berbuat baik akan bahagia dan orang yang berbuat jahat akan celaka."
Sathih menegaskan apa yang ia sampaikan itu benar adanya. Sesaat setelah itu, Syiqq tiba. Sang raja menyampaikan hal yang sama seperti yang ia sampaikan kepada Sathih, tapi menyembunyikan jawaban-jawaban Sathih untuk membuktikan kebenarannya.
Syiqq berkata, "Ya, Paduka melihat api keluar dari kegelapan lalu jatuh di sebuah kebun dan meliputinya. Selanjutnya, api itu membakar setiap makhluk yang bernapas di kebun itu."
Raja membenarkan perkataan Syiqq dan menanyakan takwil mimpi itu. Syiqq menyampaikan hal yang sama seperti takwil Sathih. Syiqq juga menyebut akan lahir seorang rasul yang diutus untuk membawa kebenaran dan keadilan bersama orang-orang yang taat. Kekuasaan akan berada di kaum nabi itu sampai kiamat.
Sang raja bertanya, "Benarkah apa yang engkau katakan itu?"
Syiqq menjawab, "Ya, demi Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya yang tinggi dan yang rendah. Apa yang kuberitahukan kepada Paduka adalah benar dan tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya."
Nabi dan rasul yang dimaksud dukun Yaman itu adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah putra Abdullah, cucu Abdul Muthalib. Jika ditarik nasabnya sampai pada Ghalib bin Fihr dan terus hingga Adnan, menurut pendapat yang shahih dan tak diragukan.
Disebutkan dalam Jawami' As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hazm al-Andalusi yang diterjemahkan Indi Aunullah, nama Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Sumber: Detik.com.